Cara menggunakan Hero "Hilda" di Mobile Legend 100% kuat

Tonton live streaming saya: 'Cara menggunakan hero "Hilda" di mobile legend tanpa kematian' di https://gaming.youtube.com/channel/UCe6WRnuaF-3sV7fHS8qYeNQ/live

Essay



A.    DEFINISI REMAJA DAN KENAKALAN REMAJA
Pelajar dalam kamus besar bahasa indonesia adalah anak sekolah (terutama pada sekolah dasar dan sekolah lanjutan). Umumnya usia pelajar bertepatan dengan tahap usia remaja. Masa remaja adalah periode peralihan perkembangan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa awal. Periode masa remaja dimulai pada usia 10 atau 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Masa remaja ditandai dengan perubahan fisik yang cepat seperti pertambahan tinggi dan berat badan serta perubahan postur tubuh. Remaja juga mengalami perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut pubis dan wajah, dan pembesaran suara (Santrock, 2007). Masa remaja juga disebut masa pubertas, dimana hormon-hormon mulai berfungsi. Selain menyebabkan perubahan fisik/tubuh, juga mempengaruhi dorongan seks remaja. Bourgeois dan Wolfish dalam Retnowati (Tt), remaja mulai merasakan dengan jelas peningkatan dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan pada lawan jenis dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual.
Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan, atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak kedewasa. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
B.     FREE SEXDI KALANGAN REMAJA
Menurut Desmita (2005) pengertian seks bebas adalah segala cara mengekspresikan dan melepaskan dorongan seksual yang berasal dari kematangan organ seksual, seperti berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual, tetapi perilaku tersebut dinilai tidak sesuai dengan norma karena remaja belum memiliki pengalaman tentang seksual. Menurut Sarwono (2003) menyatakan, bahwa seks bebas adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis, mulai dari tingkah laku yang dilakukannya seperti sentuhan, berciuman (kissing) berciuman belum sampai menempelkan alat kelamin yang biasanya dilakukan dengan memegang payudara atau melalui oral seks pada alat kelamin tetapi belum bersenggama (necking, dan bercumbuan sampai menempelkan alat kelamin yaitu dengan saling menggesek-gesekan alat kelamin dengan pasangan namun belum bersenggama (petting, dan yang sudah bersenggama (intercourse)), yang dilakukan diluar hubungan pernikahan.
Seks bebas yang dilakukan remaja akan memunculkan permasalahan dalam kehidupan remaja. Seks bebas juga cenderung merusak masa depan remaja terutama remaja perempuan. Permasalahan yang dihadapi remaja pelaku seks bebas ditinjau dari perkembangan fisik, kognitif, psikologis, mental, moral dan sosial pada remaja adalah sebagai berikut :
1.    Perkembangan Fisik
a.   Kehamilan
Hubungan seks satu kali saja bisa mengakibatkan kehamilan bila dilakukan pada masa subur/masa ovulasi. Terjadinya kehamilan diluar nikah khususnya pada remaja perempuan karena saat remaja tersebut melakukan hubungan seks diluar pernikahan kebanyakan tidak mengetahui masa suburnya.
b.  Aborsi tidak aman
Remaja yang hamil akibat seks bebas merasa belum siap untuk memiliki anak dan melakukan aborsi pada tempat praktek ilegal tanpa ditunjang peralatan medis yang memadai. Hal ini mengakibatkan infeksi bahkan kematian.
c.   Terjangkitnya PMS (penyakit menular seksual)
Berupa bakteri, parasit, jamur, dan virus. Hubungan seks satu kali saja dapat menularkan penyakit bila dilakukan dengan orang yang tertular salah satu penyakit kelamin.
2.    Perkembangan Psikis
Remaja yang ketahuan melakukan seks bebas apabila berada dalam lingkungan (baik keluarga, teman maupun sekolah) yang masih menjaga standar moral yang tinggi, maka ia akan diliputi malu, takut dan merasa bersalah. Hal ini biasa dialami remaja perempuan terutama jika terjadi kehamilan. Perasaaan ini akan membebani dan menyebabkan depresi.
3. Perkembangan Sosial
Secara sosial, remaja yang melakukan seks pranikah akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pendidikan / sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Jika terjadi kehamilan dan melahirkan anak, maka akan mengalami kesulitan dalam mengurus anak. Biasanya usia remaja masih sangat muda dan tidak mempunyai persiapan. Remaja juga kurang mendapatkan kesejahteraan yang baik dalam hal pendidikan maupun dalam hal kesehatan bagi dirinya sendiri ataupun anaknya. Biasanya anak yang lahir dari remaja yang tidak mempunyai persiapan apapun, bila anak yang dilahirkan adalah wanita maka ia akan berakhir seperti ibunya.
Sex bebas juga akan menyebabkan seseorang tidak lagi berpikir untuk membentuk keluarga, mempunyai anak, apalagi memikul sebuah tanggung jawab. Mereka hanya menginginkan hidup di atas kebebasan semu. Lebih parah lagi seorang wanita yang melakukan sex bebas pada akhirnya akan terjerumus ke dalam lembah pelacuran dan prostitusi.
Anak yang terlanjur terlahir akibat sex bebas (perzinahan) tidak mendapatkan cinta kasih dari ayahnya dan kelembutan belainan ibunya. Ia tidak akan mendapat perhatian dan pendidikan yang cukup. Setelah ia tahu bahwa ia terlahir akibat perzinahan, maka kejiwaannya akan menjadi kaku dan tersisih dalam pergaulan dan sosial kemasyarakatan, bahkan tak jarang ia akan terlibat dalam masalah kriminalitas. Hal yang lebih ironis lagi adalah sering ayah dari anak yang terlahir akibat sex bebas tidak jelas lagi siapa ayahnya. Sex bebas juga akan menyebabkan berantakannya suatu keluarga dan terputusnya tali silaturrahmi dan kekerabatan. Orang tua biasanya tidak akan perduli lagi pada anak yang telah jauh tersesat ini, sebaliknya seorang remaja yang merasa tidak dipedulikan lagi oleh orang tuanya akan semakin nekad, membangkang dan tidak patuh lagi pada orang tua. Ia juga akan terlibat konfrontasi dengan sanak saudara lainnya. Hal ini pada akhirnya dapat menimbulkan rasa frustasi dan kecewa serta dendam tak kesudahan terhadap anggota keluarga sendiri.
4.        Perkembangan Mental
Sex bebas akan menyebabkan terjadinya penyakit kelainan seksual berupa keinginan untuk selalu melakukan hubungan sex. Sipenderita selalu menyibukkan waktunya dengan berbagai khayalan-khayalan seksual, jima, ciuman, rangkulan, pelukan, dan bayangan-bayangan bentuk tubuh wanita luar dan dalam. Sipenderita menjadi pemalas, sulit berkonsentrasi, sering lupa, bengong, ngelamun, badan jadi kurus dan kejiwaan menjadi tidak stabil. Yang ada dipikirannya hanyalah seks dan seks serta keinginan untuk melampiaskan nafsu seksualnya. Akibatnya bila tidak mendapat teman untuk sex bebas, ia akan pergi ke tempat pelacuran (prostitusi) dan menjadi pemerkosa. Lebih ironis lagi bila ia tak menemukan orang dewasa sebagai korbannya, ia tak segan-segan memerkosa anak-anak dibawah umur bahkan nenek yang sudah uzur.

5.      Perkembangan Moral
Era globalisasi didominasi dengan pesatnya perkembangan informasi, dan teknologi. Keadaan ini telah membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat terutama remaja dalam segi perkembangan  moral. Perubahan itu mengusung kumajuan yang luar biasa,sekaligus menimbulkan kegelisahan di kalangan orang banyak. Semua itu telah membawa perubahan besar terhadap perilaku manusia yang menjadi wilayah kompetisi moral. Pergaulan  bebas itu tidak hanya sebatas bergaul melainkan terkadang mendorong untuk melakukan hal yang lebih tidak di sukai oleh agama, seperti bercumbu rayu, berciuman dan bahkan terjebak dalam perzinahan. Secara mendasar ternyata hal semacam ini karena kebebasan di artikan bebas secara mutlak tanpa ada butir-butir aturan yang menjaga jarak antara mereka.
ABG atau Anak Baru Gede adalah subyek yang paling banyak terjun pada pergaulan bebas. Ini bisa dipahami karena banyak anak muda masih sangat labil. Mereka terkadang susah baik membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi perkembangan hidup mereka. Sex bebas artinya ada dua orang melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan pernikahan. Perbuatan itu bisa berujung kehamilan di luar nikah. Hal ini tentunya sangat memalukan bagi siapa saja, terutama masyarakat Indonesia yang masih memegang adat ketimuran. Seks bebas akan berakibat hamil di luar nikah. Bila sudah begitu biasanya mengambil jalan pintas untuk mengugurkan kandungan. Hal ini jelas jelas membahayakan bagi kesehatan wanita, selain harus menanggung malu.

6.      Perkembangan Kognitif
Dalam pandangan teori kognitif sosial dalam psikologi, Bandura (1986, 2003) menjelaskan bahwa manusia itu fleksibel dan mampu belajar dari pengalaman langsung, namun banyak dari apa yang mereka pelajari didapatkan dengan mengobservasi orang lain. Bandura juga yakin bahwa pembelajaran melalui observasi lebih efisien daripada belajar melalui pengalaman langsung. Ketika dilihat di lapangan, maka banyaknya perilaku seks bebas yang terjadi termasuk akibat dari proses apa yang disebut oleh Bandura sebagai Observational Learning. Orang Indonesia khususnya anak muda atau remaja berusaha mengobservasi apa saja yang dilakukan oleh remaja di Eropadan Amerika.  Saat ini para remaja mudah untuk mengakses informasi tentang seks di internet, video-video porno disinyalir juga menjadi konsumsi mereka. Belum lagi, banyaknya blue film yang beredar di pasaran dan harganya yang terlampau sangat murah menjadikan mereka mudah untuk menonton kemudian menirukannya.
Pelaku seks bebas menganggap bahwa perilaku seks bebas sudah merupakan tren dikalangan remaja dimana situasi tempat tinggal memberikan kebebasan didukung oleh pergaulan teman yang berkontribusi sangat besar dalam perilaku seks bebas. Dalam hal ini, inti dari pembelajaran observasi, yaitu modeling telah Nampak karena individu remaja yang telah menonton berbagai video-video porno tadi akan tergerak untuk melakukan hal yang sama dengan model dalam video tersebut. Individu remaja akan tergerak secara alami. Modelling mungkin tidak dilakukan oleh semua individu yang telah menonton tayangan dalam video tersebut, namun individu yang melakukan seks bebas pasti menganggap seks bebas itu berpengaruh terhadap dirinya apalagi konsekuensi yang didapatnya adalah berupa kepuasan.
Perilaku seks bebas yang ditunjukkan oleh kebanyakan remaja saat ini tidak lepas dari interaksi antara kognisi-afeksi, lingkungan dan perilaku itu sendiri. Dari aspek kognisi-afeksi, remaja yang melakukan seks bebas telah memikirkan segala konsekuensi yang didapat jika ia melakukan hal tersebut. Lingkungan-pun memiliki pengaruh kemudian, tidak ada pula hukuman berat bagi pelaku seks bebas padahal seks bebas ini telah merusak generasi muda bangsa. Bisa disimpulkan bahwa kognisi-afeksi dan lingkungan berperan aktif membentuk perilaku seks bebas. Perilaku individu tadi juga dapat mempengaruhi lingkungan dengan menyebarkan ide bahwa seks bebas itu member kenikmatan dan boleh saja dilakukan jika suka sama suka, juga mempengaruhi kognisinya bahwa seks bebas itu normal dan nilai-nilai ketimuran menjadi tidak penting dibandingkan pemenuhan kepuasan. Inilah yang disebut konsep Triadic Resiprocal Causation. Tujuan yang ingin dicapai pelaku seks bebas adalah semata-mata ingin memenuhi kepuasan akan seksualitas yang menurut mereka harus segera dipenuhi karena telah berkembangnya pemikiran di tengah masyarakat bahwa seks adalah kebutuhan mendesak yang akan menyebabkan kematian jika tidak segera dipenuhi.
C.     NARKOBA DI KALANGAN REMAJA
Narkoba pada dasarnya adalah zat/obat yang berasal dari tanaman/sintesis yang jika dimakan, diminum, dihisap, atau dimasukkan (disuntikkan) ke dalam tubuh manusia yang dapat menurunkan kesadaran dan menimbulkan ketergantungan karena mengandung bahan-bahan kimiawi yang berpengaruh dan berefek pada struktur dan organisme tubuh. Dalam UU No. 22/1997, narkoba adalah tanaman Papever, Opium mentah, Opium masak, Opium obat, Morfina, Tanaman koka, Daun koka, Kokaina mentah, Kokaina, Ekgonina, Tamanan ganja, Damar ganja, Garam-garam atau turunan dari morfina dan kokaina. 
Bila narkoba digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung pada jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Permasalahan yang dihadapi remaja yang menjadi pengguna narkobaditinjau dari perkembangan fisik, kognitif, psikologis, mental, moral dan sosial pada remaja adalah sebagai berikut :
1.      Perkembangan Fisik
a.       Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi.
b.      Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah.
c.       Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim.
d.      Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru.
e.       Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur.
f.       Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin,seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron,testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
g.      Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lainperubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, danamenorhoe (tidak haid).
h.      Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya.
i.        Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian.
2.      Perkembangan Psikis
a.       Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah.
b.      Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga.
c.       Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal.
d.      Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan.
e.       Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.
3.      Perkembangan Mental
Selain ketergantungan fisik, terjadi juga ketergantungan mental. Ketergantungan mental ini lebih susah untuk dipulihkan daripada ketergantungan fisik. Ketergantungan yang dialami secara fisik akan lewat setelah GPO diatasi, tetapi setelah itu akan muncul ketergantungan mental, dalam bentuk yang dikenal dengan istilah ‘sugesti’. Orang seringkali menganggap bahwa sakaw dan sugesti adalah hal yang sama, ini adalah anggapan yang salah. Sakaw bersifat fisik, dan merupakan istilah lain untuk Gejala Putus Obat, sedangkan sugesti adalah ketergantungan mental, berupa munculnya keinginan untuk kembali menggunakan narkoba. Sugesti ini tidak akan hilang saat tubuh sudah kembali berfungsi secara normal.
Dampak mental yang lain adalah pikiran dan perilaku obsesif kompulsif, serta tindakan impulsive. Pikiran seorang pecandu menjadi terobsesi pada narkoba dan penggunaan narkoba. Narkoba adalah satu-satunya hal yang ada didalam pikirannya. Ia akan menggunakan semua daya pikirannya untuk memikirkan cara yang tercepat untuk mendapatkan uang untuk membeli narkoba. Tetapi ia tidak pernah memikirkan dampak dari tindakan yang dilakukannya, seperti mencuri, berbohong, atau sharing needle karena perilakunya selalu impulsive, tanpa pernah dipikirkan terlebih dahulu.
4.      Perkembangan Sosial
a.       Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan.
b.      Merepotkan dan menjadi beban keluarga.
c.       Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram.
d.      Hubungan dengan keluarga, guru, dan teman serta lingkungannya terganggu.
e.       Mengganggu ketertiban umum.
f.       Selalu menghindari kontak dengan orang lain.
g.      Merasa dikucilkan atau menarik diri dari lingkungan positif.
h.      Tidak peduli dengan norma dan nilai yang ada.
i.        Melakukan hubungan seks secara bebas.
j.        Tidak peduli dengan norma dan nilai yang ada.
k.      Melakukan tindakan kekerasan, baik fisik, psikis maupun seksual.
l.        Mencuri.
5.      Perkembangan Moral
Penggunaan narkoba dapat mendatangkan perubahan sikap, sifat dan perilaku. Pemakai narkoba berubah menjadi tertutup karena malu akan dirinya, takut mati, atau takut perbuatannya diketahui. Karena menyadari buruknya perbuatan yang ia lakukan, pemakai narkoba berubah menjadi pemalu, rendah diri, dan sering merasa sebagai pecundang, tidak berguna, dan sampah masyarakat.Sebagai akibat dari adanya 3 sifat jahat narkoba yang khas, pemakai narkoba berubah menjadi orang yang egois, ekslusif, paranoid (selalu curiga dan bermusuhan), jahat (psikosis), bahkan tidak peduli terhadap orang lain (asosial).
6.      Perkembangan Kognitif
Prestasi belajar yang menurun setelah pemakaian narkotika merupakan salah satu efek dari penggunaan NAPZA. Hal ini disebabkan karena cara kerja zat NAPZA adalah  mempengaruhi  kerja  otak  dan  tubuh.  Seseorang  yang  telah  mengalami toleransi yaitu penurunan sensitivitas terhadap obat akibat pemakaian yang berulang atau berkepanjangan terhadap jenis obat, misalnya alkohol, maka di dalam tubuhnya akan terjadi dua macam toleransi, yaitu toleransi metabolisme dan toleransi farmakodinamik. 
NAPZA  mempengaruhi kinerja kognitif pada penggunanya, karena zat NAPZA mempengaruhi kerja sistem saraf dan otak, dimana otak merupakan pusat kinerja kognitif. Efek NAPZA terhadap sistem saraf antara lain, menyebabkan mengantuk, depresi, euphoria, gangguan koordinasi, halusinasi, gangguan memori dan judgement, serta kefatalan yaitu kematian.

D.    BULLYING DI KALANGAN REMAJA
Bullying (arti harfiahnya: penindasan) adalah perilaku seseorang atau sekelompok orang secara berulang yang memanfaatkan ketidakseimbangan kekuatan dengan tujuan menyakiti targetnya (korban) secara mental atau secara fisik. Menurut Merriam-Webster Online Dictionarybullying adalah “a blustering rowbeating person; especially one who is habitually cruel to others who are weaker.” Melakukan bullying berarti to “treat someone abusively or to affect them by means of force or coercion.”. Center for Children and Families in the Justice System mendefinisikan bullying sebagai , “repeated and systematic harassment and attacks on others.” Bullying bisa terjadi dalam berbagai format dan bentuk tingkah laku yang berbeda-beda. Di antara format dan bentuk tersebut adalah; nama panggilan yang tidak disukai, terasing, penyebaran isu yang tidak benar, pengucilan, kekerasan fisik, dan penyerangan (mendorong, memukul, dan menendang), intimidasi, pencurian uang atau barang lainnya, bisa berbasis suku, agama, gender, dan lain-lain.
Permasalahan yang dihadapi remaja yang menjadi korban bullyingditinjau dari perkembangan fisik, kognitif, psikologis, mental, moral dan sosial pada remaja adalah sebagai berikut :

1.      Perkembangan Fisik
Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan bullying adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim seperti insiden yang terjadi di IPDN, dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.
2.      Perkembangan Psikis
Dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan penyesuaian sosial yang buruk. Dari penelitian yang dilakukan Riauskina dkk., ketika mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.
Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah. Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder).
3.      Perkembangan Mental
Korban biasanya akan merasakan berbagai emosi negatif, seperti marah, dendam, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam, tetapi tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengembangkan perasaan rendah diri dan tidak berharga. Bahkan, tak jarang ada yang ingin keluar dan pindah ke sekolah lain. Apabila mereka masih bertahan di situ, mereka biasanya terganggu konsentrasi dan prestasi belajarnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah. Dampak psikologis yang lebih berat adalah kemungkinan untuk timbulnya masalah pada korban, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, dan ingin bunuh diri.
4.      Perkembangan Moral
Pemahaman moral menekankan pada suatu perbuatan yang dapat dinilai baik atau buruk. Hal ini sesuai dengan pendapat Budiningsih (2004, h.25 dalam Widiharto, h.10) yang menyatakan bahwa pemahaman moral menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan daripada sekedar arti suatu tindakan sehingga dapat dinilai apakah tindakan tersebut baik atau buruk. Pemahaman moral bukan tentang apa yang baik atau buruk, tetapi tentang bagaimana seseorang berpikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu adalah baik atau buruk.
Berlandaskan pendapat di atas, maka dapat dikatakan bahwa anak dengan pemahaman moral yang tinggi akan memikirkan dahulu perbuatan yang akan dilakukan. Pemikiran tersebut menyatakan apakah perbuatanannya nanti merupakan perbuatan yang dikatakan bernilai baik atau buruk, adanya pemahaman moral anak tersebut dapat mengakibatkan anak memiliki kemampuan untuk menilai tindakan bullyingyang menyakiti orang lain sehingga perbuatan yang buruk yang sebenarnya tidak boleh dilakukan sehingga anak dengan pemahaman moral yang tinggi tidak melakukan perilaku bullying.
5.      Perkembangan Sosial
Bullying menciptakan lingkaran setan bagi korban dalam kehidupan sosial mereka. Salah satu reaksi yang paling umum dari intimidasi yang terjadi pada anak-anak adalah, mereka akan mulai bertindak lebih muda dari usianya. Dalam upaya untuk melindungi diri dari situasi bullying, mereka seolah akan sulit menjadi dewasa. Ini ditafsirkan oleh teman-teman mereka sebagai “bayi”. Semakin anak cenderung terhadap guru, dan ketika menjadi dewasa akan berharap untuk dilindungi, dan yang sudah keras menjadi pembully; terutama akan merusak selama tahun-tahun pra-remaja, ketika anak-anak mencoba untuk memahami tentang bagaimana cara mengembangkan hubungan pribadi dengan rekan-rekan mereka. Hal ini bisa memiliki konsekuensi seumur hidup pada kemampuan individu untuk ikatan dengan orang lain/sosial.
6.      Perkembangan Kognitif
Terkait dengan konsekuensi bullying, penelitian Banks (2000, dalam Northwest Regional Educational Laboratory, 2001:33) menunjukkan bahwa perilaku bullyingberkontribusi terhadap rendahnya tingkat kehadiran, rendahnya prestasi akademik siswa, rendahnya self-esteem, tingginya depresi, tingginya kenakalan remaja dan kejahatan orang dewasa. Dampak negatif bullying juga tampak pada penurunan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa. Berbagai penelitian juga menunjukkan hubungan antara bullying dengan meningkatnya depresi dan agresi.

E.     TAWURAN ANTAR PELAJAR
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency).Menurut Mansoer (dikutip dalam Solikhah, 1999) “perkelahian pelajar” atau yang biasa disebut dengan tawuran adalah perkelahian massal yang merupakan perilaku kekerasan antar kelompok pelajar laki-laki yang ditujukan pada kelompok pelajar dari sekolah lain.
Permasalahan yang dihadapi remaja yang melakukan tawuranditinjau dari perkembangan fisik, kognitif, psikologis, mental, moral dan sosial pada remaja adalah sebagai berikut :
1.      Perkembangan Fisik
Pelajar yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai kematian.
2.      Perkembangan Psikis
Contohnya keresahan masyarakat dan traumatik. Keresahan ini akan menimbulkan rasa tidak percaya terhadap generasi muda yang seharusnya menjadi agen perubahan bangsa. Selain keresahan itu, traumatik bisa dialami oleh masyarakat yang ada di lokasi saat terjadi tawuran. Masyarakat akan menjadi takut dan tidak lagi berani berhadapan dengan kelompok pelajar.
3.      Perkembangan Moral
Meurunnya moralitas para pelajar terutama yang terlibat tawuran. Berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar tersebut belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Sehingga dalam hal ini siswa akan cenderung acuh, tidak perduli dengan orang lain, egois, tidak disiplin dan lain-lain.

4.      Perkembangan Sosial
Rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Kerugian semacam ini sangat terasa di Jakarta. Banyak tawuran pelajar terjadi di tempat-tempat umum, seperti jalan raya, bus, dan halte. Tawuran antar pelajar tentu sangat merugikan orang lain terutama fasilitas umum yang berada disekitar tempat kejadian tawuran. Misalnya kendaraan umum, halte, gedung-gedung, dan lain-lainnya.Dalam kerusakan di tempat mereka melakukan aksi tersebut kebanyakan dari para pelaku tawuran tidak mau bertanggung jawab atas kerusakan yang mereka timbulkan. Biasanya mereka hanya lari setelah puas melakukan tawuran. Contohnya pecahnya kaca pada mobil, perusakan fasilitas umum, pembakaran ban ataupun kendaraan bermotor dsb.
5.      Perkembangan Kognitif
Tindakan tawuran akan berdampak buruk bagi para remaja pelajar karena akan menggangu proses pembelajaran yang sedang para pelaku jalani, jika para pelajar diketahui menjadi pelaku tawuran maka sekolah akan memberikan hukuman seperti tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah untuk jangka waktu tertentu atau para pelaku akan diberikan hukuman seperti dikeluarkan dari sekolah sehingga tidak dapat melanjutkan sekolahnya kembali.
6.      Perkembangan Mental
Tawuran pelajar dapat menyebabkan trauma pada para pelajar yang menjadi korban ketika tawuran pelajar. Selain itu juga trauma juga bisa dialami keluarga salah seorang pelajar apabila pelajar tersebut sampai meninggal dunia.Merusak mental dan menurunnya moralitas para pelajar/generasi muda.

DAFTAR PUSTAKA

2.      lib.unnes.ac.id/1484/1/2334.pdf














16.  http://wacanapengetahuan.blogspot.co.id/2013/08/tawuran-pelajar-dampak-yang-ditimbulkan_7539.html




powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme